APBI: Produksi Batu Bara Nasional Belum Naik Seiring Membaiknya Harga

Agen Casino Sbobet Jakarta – ‎Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengungkapkan menguatnya harga batu bara pada bulan September ini menjadi sinyal positif pelaku pertambangan. Namun industri batu bara nasional masih melihat perkembangan harga ke depan. Deputi Direktur APBI Hendra Sinadia mengatakan harga batu bara memang terus menguat beberapa bulan terakhir. Namun hal ini belum membuat pelaku usaha menggenjot produksinya. “Tentu kenaikan harga menjadi sinyal positif. Saya kira tidak serta merta produksi segera naik. Pelaku pertambangan masih mencermati perkembangan yang terjadi,” kata Hendra di Jakarta, Selasa (13/9). Hendra menuturkan, menguatnya harga batu bara lantaran meningkatnya permintaan dari Tiongkok dan India. Dia menjelaskan negeri Tirai Bambu itu mengurangi produksi batu bara lantaran mereka beralih ke energi terbarukan. Tiongkok mulai membangun pembangkit listrik tenaga hydro. Produksi batu bara Tiongkok dikurangi hingga 60 juta ton. “Jumlah itu kecil dibandingkan dengan produksi mereka yang sampai miliaran ton. Tapi 60 juta itu sangat besar bagi pasar,” ujarnya. Sedangkan India, lanjut Hendra, dalam lima tahun ke depan bakal membutuhkan pasokan batu bara. Namun setelah lima tahun itu, India bakal mengandalkan produksi batu bara dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan nasionalnya. “Jadi sekarang India sedang menggenjot produksi,” ujarnya. Dua kondisi tersebut menurut Hendra menjadi pertimbangan pelaku usaha di Indonesia. Pelaku industri berharap tren harga batu bara terus menguat atau setidaknya berada di kisaran US$ 65 per ton. Berdasarkan catatan, kenaikan harga di September melampaui HBA di Januari 2016 silam yang berada di level US$ 53,20 per ton. Sejak awal tahun memang terjadi fluktuasi harga. Pada Februari HBA anjlok ke level US$ 50,92 per ton. Kemudian naik tipis di Maret dengan HBA pada posisi US$ 51,62 per ton. Tren penguatan tersebut berlanjut ke April yang membuat HBA berada di level US$ 52,32 per ton. Tren kenaikan harga dipengaruhi finalisasi kontrak pasokan batu bara antara Australia dan Jepang. Namun setelah kontrak ditandatangani harga batu bara kembali melemah di Mei di posisi US$ 51,2 per ton. Pertengahan tahun harga batu bara mengalami kenaikan tipis yakni US$ 51,81 per ton. Hal ini lebih dipengaruhi oleh kenaikan index harga di Australia. Tren penguatan HBA terus terjadi di Juli yang mencapai US$ 53 per ton. Kemudian merangkak naik lagi di Agustus yang berada di level US$ 58,37 per ton. HBA September ini naik 9 persen dibandingkan harga batubara di periode Agustus. Penetapan formula HBA memang dipengaruhi oleh sejumlah index yakni Indonesian Coal Index (ICI), New Castle Export Index (NEX), New Castle Global Coal Index (GC) dan Platts. Masing-masing Index memiliki porsi sama sebesar 25 persen dalam penetapan HBA per bulan. Rangga Prakoso/WBP BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu