Film “Mencari Hilal” ajarkan hormati keberagaman

Jakarta ( News) – “Saya berjualan bukan untuk cari untung, tetapi ibadah,” kata Mahmud (Deddy Sutomo), seorang pemilik toko kelontong yang membuat kesal para pesaing akibat memasang harga di bawah standar. Mahmud memegang teguh prinsip-prinsip Islam yang diwujudkan dalam setiap serat kehidupannya. Berdakwah, berdakwah, berdakwah. Tak jarang dia mengkritik perilaku orang-orang sekitarnya yang dianggap tidak sesuai dengan kebenaran yang dianutnya. “Kamu takut sama Allah apa sama mertua?” sindirnya saat seorang jamaah pamit saat Mahmud hendak menyampaikan ceramah di masjid. Alasannya, disuruh mertua berbelanja untuk lebaran. Sebagian merasa jengah dengan sudut pandang Mahmud, termasuk putranya sendiri, Heli (Oka Antara) yang telah lama pergi dari rumah untuk mengabdi sebagai aktivis lingkungan. Suatu hari, Mahmud tersentak dengan berita sidang isbat penentuan hari Idul Fitri yang menelan biaya miliaran rupiah. Dia teringat masa lalu di pesantren saat mencari hilal bersama teman-temannya. Mahmud ingin melakukan napak tilas. Mahmud ingin melihat hilal. Namun, usianya sudah renta. Putrinya Halida (Eryhtrina Baskoro) melarang niat sang ayah yang sudah sakit-sakitan. Pada saat yang sama, Heli tiba-tiba pulang ke rumah. Bukan karena ingin menghabiskan waktu bersama keluarga saat lebaran, tetapi hanya karena ingin mengurus paspor untuk pergi ke Nicaragua sebagai aktivis lingkungan. Heli merayu sang kakak untuk mau membantu mengurus paspornya agar selesai lebih cepat karena dia benar-benar dikejar waktu. Halida yang bekerja di imigrasi berjanji membantu asal Heli mau menemani ayahnya mencari Hilal. Dengan berat hati, Heli kemudian melakukan perjalanan bersama ayahnya. Selama perjalanan, mereka bertemu banyak orang dan menghadapi berbagai peristiwa yang menumbuhkan rasa saling pengertian di antara dua generasi yang berbeda. Sutradara 29 tahun Ismail Basbeth dipercaya untuk mewujudkan skenario “Mencari Hilal” ke layar lebar. Pria berdarah Arab yang besar dalam tradisi Jawa itu biasa membuat karya yang berseliweran di festival film internasional, misalnya “Another Trip to the Moon” yang masuk Tiger Awards International Film Festival Rotterdam 2015. Tema hubungan ayah-anak yang dekat dengan keseharian banyak orang menjadi salah satu daya tarik “Mencari Hilal” di mata Ismail. “Peristiwa-peristiwa ini pernah saya alami, kalau saya jujur dalam membuat film, mungkin bisa tersampaikan pada penonton,” kata dia. Meski lebih sering membuat film seni eksperimental yang diterima di festival film internasional, Ismail menganggap film festival dan film komersil sama saja. “Itu hanya label perdagangan, yang terasa adalah perbedaan film bagus dan tidak bagus,” imbuh pembuat film pendek “Shelter” itu. Terbiasa membuat film independen, dia mengaku terbiasa bekerja secara efisien sehingga setiap adegan benar-benar dipikirkan secara matang. “Satu shot pun jangan sampai terbuang.” Ismail ingin menyampaikan keberagaman di Indonesia, termasuk soal agama, budaya dan generasi tanpa ingin menghakimi. “Solusi dari perbedaan adalah menerima perbedaan itu.” Film yang pengambilan gambarnya berlangsung di berbagai tempat di Jogjakarta itu merupakan salah satu karya dari Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Gerakan tersebut dimotori oleh lima rumah produksi, yakni MVP Pictures, Studio Denny J.A, Dapur Film, Argi Film dan Mizan Productions yang ingin membuat karya yang mendorong pemahaman keagamaan toleran. “Mencari Hilal” akan tayang pada 15 Juli 2015. Editor: Ruslan Burhani COPYRIGHT © 2015

Sumber: AntaraNews