Komang Wilantara Korupsi Raskin Ratusan Juta Rupiah

liputan6 Komang Wilantara (41) terpidana dalam kasus lainnya kembali terjerat perkara korupsi.

Mantan kepala urusan (kaur) Keuangan Desa Lokapaksa, Seririt, Buleleng duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa dalam kasus korupsi dana Harga Tebus Raskin (HTR).

Dalam tuntutan jaksa dibeberkan, uang korupsi digunakan untuk kepentingan pribadinya dan juga judi.

Dalam sidang dengan agenda pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), terdakwa Wilantara dituntut 2,5 tahun, Kamis (6/7/2017) di Pengadilan Tipikor.

Selain menjatuhkan pidana badan, JPU Agus Suraharta juga menuntut Wilantara denda Rp 50 juta, subsider tiga bulan kurungan.

Wilantara diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara Rp 153 juta.

Dengan ketentuan, apabila terdakwa tidak membayar uang pengganti paling lama satu bulan sesudah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

Jaksa Agus Suraharta menilai, perbuatan terdakwa Komang Wilantara telah melakukan atau yang turut serta melakukan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi.

“Menuntut supaya majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Komang Wilantara dengan pidana penjara selama 2 tahun dan 6 bulan,” tegas Jaksa Agus Suraharta di hadapan majelis hakim pimpinan Wayan Sukanila. liputan6

Atas tuntutan jaksa tersebut, Wilantara yang didampingi penasihat hukumnya akan mengajukan pembelaan (pledoi) yang akan dibacakan pada sidang pekan depan.

Disebutkan, perbuatan Wilantara yang saat itu menjabat Kaur Keuangan Desa Lokapaksa, Seririt, Buleleng tidak menyetorkan kwitansi penyaluran beras miskin untuk 1.067 Rumah Tangga Sasaran (RTS) tahun 2014 di sembilan dusun.

Terdakwa selaku pelaksana retribusi yang bertugas menerima pembayaran HTR dari sembilan dusun atau banjar dinas untuk setiap bulannya Rp 25,6 juta.

Namun uang pembayaran THR yang diterima tidak menyetorkan oleh terdakwa ke nomor rekening bank yang ditunjuk.

Justru selama enam bulan (Mei-Oktober 2014) dana Rp 153,7 juta digunakan untuk keperluan pribadinya, di antaranya membayar utang, sewa kontrakan warung serta berjudi.

Pada bulan Maret 2017, Wilantara juga terjerat perkara korupsi dan kini masih berstatus narapidana.

Wilantara divonis pidana penjara tiga tahun, denda Rp 150 juta subsider dua bulan kurungan dalam kasus korupsi Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Desa Lokapaksa, Seririt, Buleleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *