Tergerusnya Nilai Kearifan Lokal Picu Sastrawan Indonesia Adakan Diskusi di TMII

RIMANEWS – Diskusi sastra dan kearifan lokal dalam keberagaman etnik di Indonesia akan digelar di Anjungan Sumatra Utara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada Sabtu (28/6) dengan menghadirkan pembicara dari berbagai suku. “Pembicara yang akan hadir di antaranya motivator dan guru etos nasional, Jansen Sinamo, Bupati Serdang Bedagai, Soekirman dan Khrisna Pabichara sastrawan asal Makassar,” ujar Ketua Himpunan Pengarang Indonesia Aksara, Saut Poltak Tambunan di Balige, Jumat (27/6). Sastrawan asal kota Balige itu menyebutkan, saat ini semakin banyak orang terpancing untuk menanggalkan ciri khas tradisi suku asalnya agar lebih mudah memasuki masyarakat baru yang akar tradisinya nyaris hilang, terutama orang-orang urban. Padahal, kata dia, lewat banyak pintu, Indonesia bisa menjadi satu. Salah satu di antaranya adalah melalui lunturnya fanatisme primordial di mana urusan adat sudah banyak yang tidak mengetahuinya lagi. Akibatnya, kata Saut, banyak orang berusaha supaya tak tampak lagi suku asalnya. Namanya dicomot dari film sinetron. Marganya dihilangkan atau disingkat. Gaya bicara bahkan gaya hidupnya pun berubah. “Sentuhan adat dan kearifan lokal lainnya semakin jauh ditinggalkan,” ujar senior kurator festival sastra internasional (Ubud Writers and Readers Festival 2012) itu. Menurut dia, hal tersebut dianggap anakronis. Di bidang hukum, banyak perkara yang melibatkan pranata hukum, padahal bisa diselesaikan pada ranah kearifan lokal. Saut, pengarang yang sudah 40 tahun berkiprah di dunia sastra itu menyatakan kegelisahannya dengan kondisi sastra Indonsia saat ini. Bahkan, menurut dia, ditengarai satu per satu bahasa daerah akan punah dari bumi Nusantara. Karena itu, katanya, dalam tiga tahun belakangan ini, Saut bergiat menggegas literasi dalam bahasa daerah Batak Toba. Di antaranya, kumpulan cerpen Mangongkal Holi, novel Mandera na Metmet, Si Tumoing Manggorga Ari Sogot dan Si Tumoing Pasiding Holang Padimpos Holong. Ditambahkannya, diskusi sastra dan kearifan lokal dalam keberagaman etnik itu digelar atas kerjasama dengan Anjungan Sumatera Utara TMII, dan dukungan dari perusahaan telekomunikasi Indosat. Musik tradisi uning-uningan dan tortor akan melengkapi pentas sastra dimaksud bersama pembacaan puisi dan musikalisasi. Trie Utami yang populer di pentas musik, kali ini akan tampil di pentas sastra. Di samping itu, juga akan diramaikan pameran lukisan menampilkan Yan Harahap pelukis eksotik nuansa Batak serta Febrantonius yang melukis dengan bahan jerami. “Penerbit Selasar Pena Talenta juga akan meluncurkan buku terbaru berbahasa Batak berjudul Si Tumoing Pasiding Holang Paimpos Holong dan kumpulan puisi Masih Meski Bukan yang Dulu,” kata Saut. (atr/fr) Baca Juga Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Budaya , TMII , Diskusi , Sastra , Budaya , TMII , Diskusi , Sastra

Sumber: RimaNews