Barcelona, Pembunuh Sepak Bola Indah

Tgl Hk Pertandingan lanjutan semifinal Liga Champion, yang baru berakhir sangat menguras secara fisik maupun mental tim Chelsea. Sebelumnya tim asuhan Roberto Di Matteo itu baru melalui pertandingan berat dan berhasil menahan imbang Arsenal di Premier League. Lantas apa yang membuat mereka berubah 180 derajat di bawah asuhan Di Matteo? Pelatih asal Italia mampu beradaptasi dan membaca situasi yang kini dialami The Blues, yang notabene didominasi pemain-pemain yang sudah menurun akselereasi maupun kecepatannya. Jika melihat pertandingan melawan Barcelona , sangat jelas terlihat kondisi keduanya sangat berbeda. Barcelona memiliki materi pemain yang jauh lebih segar, ada Isaac Cuenca di sayap kiri dan Alexis Sanchez di sisi yang lain, dan tentu saja El Messiah, Lionel Messi. Sementara itu, lini tengah sangat baik dikuasai oleh Andres Iniesta dan Xavi Hernendez yang merupakan duet gelandang terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Di kubu lawan, Frank Lampard, John Obi Mikel, dan Raul Meirelles menjadi filter serangan Azulgrana. Sejarah mencatat sudah empat kali mereka bertemu dengan hasil 3 kali imbang dan 1 kemenangan pada laga sebelumnya. Tren positif Chelsea di laga-laga bersama Di Matteo tenyata sangat besar pengaruhnya dengan kata lain ia sudah berhasil mengembalikan kepercayaan diri para pemain yang menjadi kunci kesuksesan The Blues dalam menyingkirkan El Barca. Seperti biasa, jalannya pertandingan didominasi oleh Azulgrana. Beberapa kali mereka menciptakan peluang tapi berhasil dimentahkan Chelsea yang dikawal ketat oleh duet John Terry dan Gary Cahill. Kedua pemain ini sangat cocok bermain bersama, padahal Cahill baru saja bergabung. Yang satu memiliki pengalaman dan yang lainnya masih muda dan segar. Hubungan antara keduanya menjadi sangat padu dan satu sama lain saling mengisi. Namun, di menit ke 12 Cahill sudah harus ditarik keluar lapangan. Ia berbenturan dengan Iniesta yang membuatnya salah melakukan tumpuan. Ia lantas digantikan oleh Jose Bosingwa. Praktis, hanya Terry yang menjadi satu-satunya bek tengah di lini pertahanan Chelsea . Hal ini juga sama terjadi di kubu lawan, Barcelona . Dani Alves masuk menggantikan Gerard Pique karena ia bertabrakan dengan Victor Valdes. Drama pun terjadi, ketika gol Sergio Busquet mengubah keadaan menjadi 1-0. Berawal dari tusukan Cuenca di sisi kanan Chelsea yang ditinggalkan Cahill, umpannya berhasil menipu para pemain belakang Chelsea hingga dapat dimanfaatkan Busquet yang berdiri tanpa penjagaan. Keadaan ini mengakibatkan rasa frustasi, hingga sang kapten, Terry, harus dipaksa meninggalkan lapangan ketika tindakannya menendang bagian belakang Alexis. Tindakan yang sama sekali tidak perlu karena bola sedang tidak dimilikinya. Akibatnya tak ada bek tengah yang tersisa di kubu Chelsea . Sebuah situasi yang sangat krusial mengingat lawan yang dihadapi adalah Barcelona . Gol Busquet memicu semangat para pemain Barcelona hingga tak lama berselang, di menit ke 43, Iniesta kembali menggetarkan jala Petr Cech. Ia dengan apik mencari celah agar tidak terjebak perangkat offside , di saat bersamaan bola berhasil disodorkan Messi kepadanya. Keadaan 2-0 membuat Barcelona seperti berada di langit ketujuh. Tensi penonton kembali naik setelah serangan balik yang cepat nan efektif berhasil dikonversi Ramires menjadi sebuah gol di perpanjangan waktu babak pertama. Kedudukan sementara 2-1 membawa Chelsea sedikit termotivasi. Di babak kedua, keadaan sedikit berubah namun masih didominasi para pemain Barcelona . Dalam setiap pertandingan, Barca selalu mendikte permainan sehingga memaksa para lawan hanya mengandalkan serangan balik. Permainan cantik hanya diperagakan para pemain Barcelona melalui tiki-taka , sedangkan lawan harus menunggu dan melakukan umpan jauh saat bola berada di pengusaan lawan. Hal itu mengingatkan kepada laga El Classico sebelumnya, di mana Madrid yang bermaterikan pemain kelas dunia dipaksa bertahan. Para pemain Barcelona pun kesal dengan strategi tersebut. Tapi, inilah sepak bola, kemenangan yang paling utama. Disadari atau tidak, permainan Barcelona ini sudah menghapus permainan cantik dalam sepak bola, dengan siapapun lawannya. Dominasi Azulgrana sudah melewati batas. Terbukti strategi bertahan menjadi yang paling ampuh. Para pemain Barcelona menjadi tidak tenang, panic, dan cenderung tanpa visi yang jelas. Permainan tiki-taka mereka menjadi jauh berkurang diimbangi dengan agresivitas Lampard, Mikel, dan Meirelles di lini tengah. Sebenarnya sebuah kesempatan dimiliki Messi saat ia mengambil tendangan penalti setelah Fabregas dijatuhkan oleh Drogba. Namun, tiang gawang yang menjadi musuh utama Messi malam ini. Petaka pun terjadi kala Torres yang masuk menggantikan Drogba berhasil menyarangkan gol di perpanjangan waktu babak kedua, lagi, melalui sebuah serangan balik. Mengakhiri pertandingan dengan agregat 2-3. Dengan runtutan hasil mengecewakan ini, era kejayaan Barcelona berakhir sudah. Apa yang diramalkan para pemain dan manajer tim menjadi kenyataan. Messi cs. bukan tim dewa yang tak bisa dikalahkan setiap lawan. Mereka manusia biasa, bisa berdiri tegak begitu pula tersungkur di dalam sebuah pertandingan. Di sisi lain, hasil ini menjadikan dendam Chelsea , atas kekalahan pada 2009, terbalaskan. Kutipan dari film “ Revenge is a meal best served cold ” (Man on fire, 2004) menjadi situasi yang paling pas. *) Penulis adalah mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Sumber: Juara.net