Masyarakat kota diharapkan peduli harimau

Jakarta ( News) – Organisasi lingkungan hidup WWF Indonesia mengharapkan masyarakat yang hidup di kota menyadari pentingnya menjaga kelestarian harimau Sumatera meskipun tinggal jauh dari hutan. “Ada koneksi yang putus dari masyarakat di perkotaan dengan apa yang terjadi di daerah yang jadi sumber penopang kita,” kata Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF Indonesi Nyoman Iswarayoga saat jumpa pers Hari harimau Sedunia di Jakarta, Jumat (29/7). Masyarakat perkotaan umumnya sudah mengetahui bahwa harimau Sumatera sudah langka namun masih belum paham apa yang dapat mereka lakukan. Menurut Nyoman, bila mendengar orang yang dikenal ingin berburu atau membeli komponen harimau, masyarakat dapat membantu dengan memberi tahu mengenai kondisi harimau Sumatera, yang kini terancam punah (critically endangered), satu tingkat di bawah punah di alam (extinct in the wild). Bila spesies yang berada di urutan teratas rantai makanan di hutan itu punah, tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem hutan. Memulai dengan mengubah kebiasaan sehari-hari pun dapat berdampak pada pelestarian harimau Sumatera, misalnya mengurangi penggunaan kertas karena berasal dari hutan, habitat alami hewan. “Gaya hidup sehari-hari itu yang jadi penyebab harimau tidak bisa hidup di alamnya. Hutan sebagai habitat asli ditebang, dia tidak punya lagi.” Sensus harimau Panthera tigris sumatrae kini berjumlah sekitar 371, berdasarkan data yang dikumpulkan WWF tahun lalu. Menurut Nyoman, cukup sulit untuk mengetahui jumlah pasti harimau Sumatra karena mereka makhluk soliter dengan daya jelajah yang luas, sekitar 10 ribu hektar per ekor. Sejauh ini, belum ada sensus ulang untuk mengetahui jumlah pasti hewan tersebut. Bila sudah diketahui pasti, pihak yang berwenang dapat mendorong program apa yang tepat agar jumlah harimau Sumatera aman. “Kami dorong pemerintah untuk sama-sama sensus ulang lagi. 371 ini bisa naik-turun. Masih bisa berkembang biak,” kata Nyoman. Sementara itu, WWF mencatat angka kematian harimau Sumatera berjumlah 19 pada kurun waktu 2010-2014, baik karena kematian alami, konflik dengan manusia maupun perburuan. Angka tersebut pun masih belum dapat menggambarkan penurunan karena bangkai harimau dapat dibakar atau ditanam di dalam tanah setelah diambil kulit dan taringnya, berbeda dengan bangkai gajah yang besar sehingga sulit untuk dihilangkan. Editor: Tasrief Tarmizi COPYRIGHT © 2016

Sumber: AntaraNews