Pangkalan Gas 3 Kg yang Jual di Atas HET Akan Disanksi

Bengkulu- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bengkulu akan memberikan sanksi tegas berupa pencabutan izin operasional kepada pemilik pangkalan yang terbukti menjual gas elpiji 3 kilogram (kg) di atas harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 15.300 per tabung. “Sanksi ini diberikan karena dari hasil investigasi Biro Ekonomi Pemprov Bengkulu, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bum (Hiswana Migas) dan Pertamina, ditemukan harga gas 3 kg dijual Rp 18.500-Rp 25.000 per tabung,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperindag Kota Bengkulu, Kwatrin Kesuma, di Bengkulu, Senin (26/9). Ia mengatakan, tidak ada alasan bagi pangkalan menjual gas 3 kg hingga Rp 25.000 per tabung, karena harga bahan bakar ini tidak mengalami kenaikan dan kuotanya tidak dikurangi pemerintah. Jika masyarakat menemukan kasus tersebut, segera melaporkan ke Disperindag. Kwatrin menambahkan, dari hasil investigasi tim terpadu di lapangan, ditemukan ada 10 pangkalan menjual gas 3 kg di atas HET sebesar Rp 25.000 per tabung. “Mereka sudah kita berikan peringatan 3 kali, jika tetap menjual gas di atas HET akan kita cabut izinya,” ujarnya. Namun dia tidak menjelaskan nama pemilik dan alamat pangkalan tersebut. “Yang jelas, ada 10 pangkalan di Bengkulu menjual gas 3 kg di atas HET dan mereka kita berikan teguran lisan dan tertulis,” ujarnya. Dari hasil pantuan di lapangan, tidak ada kelangkaan gas 3 kg di Bengkulu. Terbukti, beberapa pangkalan yang ditemui memiliki stok elpiji 3 kg mencukupi. “Jadi, kenaikan harga gas belakangan ini bukan disebabkan stok langka, tapi permainan pemilik pangkalan untuk mendapatkan keuntungan besar sehingga menjual ke konsumen di atas HET yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya. Pertamina Bengkulu setiap hari menyalurkan gas melon 3 kg ke pangkalan sebanyak 9.520 tabung. Pendistribusian ini sesuai kuota yang ditetapkan pemerintah. “Kelangkaan gas pernah terjadi di Bengkulu pada H-2 Idul Adha karena kebutuhan meningkat, tapi sekarang sudah tidak aman dan stok melimpah di pangkalan. Jadi, kalau benar harga gas 3 kg naik sampai Rp 25.000 per tabung, maka hal tersebut ulah oknum pangkalan,” ujarnya. Untuk mengantisipasi kelangkaan gas 3 kg di Bengkulu, Disperindag mengimbau masyarakat ekonomi menengah ke atas dan usaha maju agar tidak menggunakan elpiji 3 kg. Pasalnya, gas melon itu hanya diperuntukkan bagi masyarakat menengah bawah. “Kita ingin distribusi gas elpiji tepat sasaran. Pemilik pangkalan harus menjual gas ini kepada yang berhak. Kita imbau masyarakat yang kaya untuk tidak membeli gas 3 kg,” ujarnya. Sementara itu, Senior Administrasi DSP Pertamina Bengkulu, Dody Angriawan mengatakan, kenaikan harga gas elpiji 3 kg di Bengkulu belakangan ini, bukan karena pengurangan jatah dari Pertamina, tapi diduga ulah oknum pangkalan yang menaikkan harga sepihak dengan alasan stok tipis. Padahal, stok gas 3 kg di Bengkulu cukup banyak dan pasokan dari Pertamina ke pangkalan berjalan lancar. Demikian pula kuota 3 kg untuk Bengkulu tidak dikurangi, tetap sesuai jatah yang ditetapkan pemerintah sebanyak 38.583 metrik ton atau naik menjadi 114 persen dari tahun lalu. Dody mengatakan, agar tidak kembali terulang, ke depan pemakaian gas 3 kg akan menggunakan kartu kendali. “Rencana ini akan kita laksanakan tahun depan, tapi perlu sosialisasi ke masyarakat,” ujarnya. Selain itu, pihaknya juga tidak akan menambah kuota gas 3 kg untuk Bengkulu karena kuota sekarang lebih dari cukup. “Kami jamin kuota gas 3 kg yang kita berikan tidak akan habis sampai akhir tahun nanti,” ujarnya. Usmin/WBP Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu