PB PABBSI Siapkan Regenerasi untuk Olimpiade Tokyo 2020

RIO DE JANEIRO, JUARA.net – Indonesia gagal menambah medali dari cabang olahraga angkat besi pada Olimpiade Rio 2016 setelah Triyatno hanya mampu menempati peringkat ke-8 di kelas 69 kg pada laga yang berlangsung di Riocentro, Rio de Janeiro, Rabu (10/8/2016) waktu setempat. Triyatno melakukan total angkatan 317 kg, terpaut 35 kg dari lifter China, Shi Zhiyong, yang merebut medali emas dengan total angkatan 352kg. Ketua umum PB PABBSI Rosan Roslani, mengakui bahwa hasil ini sudah diperkirakan sejak awal lantaran lawan-lawan Triyatno memang jauh lebih tangguh. “Lihat saja lawannya, seperti lifter China. Namun, kami melihat di kelas 69 kg ini masih ada peluang karena kami terus melakukan kaderisasi untuk empat tahun lagi. Secara teknik dan mental masih banyak yang harus disempurnakan,” kata Rosan usai pertandingan. Setelah melewatkan kesempatan untuk meraih medali emas di kelas 48 kg putri dan 62 kg putra, manajer tim Alamsyah Wijaya, menyebut nutrisi sebagai kelemahan utama tim angkat besi Indonesia. Rosan mengatakan bahwa masalah tersebut sudah mulai ditangani dengan serius. “Kami sangat menyadari (masalah nutrisi). Oleh karena itu, sejak saya menjadi ketua umum pada Oktober tahun lalu, yang pertama saya lakukan adalah mencari dokter nutrisi karena nutrisi bisa memperpanjang karier atlet dan juga mencegah cedera,” ucap Rosan menambahkan. Menurut Rosan, semula para atlet mengeluh dengan diet ketat yang diterapkan. Namun, diet tersebut terbukti bisa meningkatkan performa para lifter. “Penerapan sport science sudah mendesak karena inamika di negara lain sangat tinggi. Sementara itu, kami dulu berpikir dengan metode latihan yang ada hasilnya sudah bagus,” tutur Rosan. Timnas angkat besi berpose di Rio de Janeiro, Brasil, Selasa (2/8/2016). ISTIMEWA Selain penerapan sport science , Rosan juga menyebut jaminan hidup bisa membuat para atlet bisa berlatih dan bertanding dengan tenang. Oleh karena itu, dia berterimakasih kepada pemerintah melalui kemenpora, yang mulai memberikan jaminan hari tua kepada para Olimpian. Angkat besi menjadi cabang olahraga yang paling konsisten menyumbang medali untuk kontingen Indonesia sejak Olimpiade Sydney 2000. Raema Lisa Rumbewas menjadi peraih medali pertama di cabang angkat besi dengan raihan medali perak di kelas 48kg, diikuti Sri Indriyani dengan medali perunggu di kelas yang sama, dan Winarni yang meraih medali perunggu di kelas 53 kg. Sejak itu, angkat besi terus menyumbang medali. Eko bahkan menjadi atlet Indonesia pertama yang mampu meraih medali pada tiga Olimpiade. PABBSI pun mempunyai tugas berat untuk terus mempertahankan prestasi ini. “Kami sudah memantau sejak sekarang siapa saja yang masih bisa dipertahankan untuk Olimpiade 2020 . Yuni masih 21 tahun, jadi kami berharap dia masih bisa jadi andalan di dua atau tiga Olimpiade mendatang,” kata Rosan. “Eko saya kira peluangnya 50-50. Dia masih punya semangat tinggi. Dengan penerapan sport science kami berharap bisa memperpanjang karier Eko dan saya rasa bisa. Kita lihat lifter Kolombia yang menjuarai kelas 62 kg sudah berusia 33 tahun. Selain itu, kami juga harus melakukan kaderisasi,” ucap Rosan. Indonesia masih memiliki satu wakil yang akan berlaga yakni Deni yang akan turun di kelas 77 kg.

Sumber: Juara.net