Penyelam-Penyelam Cilik saat Pemecahan Rekor Dunia Sail Bunaken 2009 Suka Lihat Ikan, Nyaris Berhent

Tgl Hk Di antara ribuan peserta acara pemecahan rekor dunia selam masal di Pantai Malalayang, Manado, kemarin (16/8) terdapat dua penyelam cilik. Mereka adalah Keysha Tesalonika Latjando, 9, dan Jason Axel Darmawijaya, 10. Apa yang mendorong mereka ikut serta acara Sail Bunaken 2009? —————————————– JANESTI PRIYANDINI, Manado —————————————– JALAN raya sepanjang Pantai Malalayang, Manado, kemarin pagi ditutup total. Tidak ada kendaraan yang melintas. Area itu digunakan untuk pemecahan rekor dunia penyelaman masal dalam rangkaian acara Sail Bunaken 2009. Tidak seperti biasanya, jalanan sepanjang pantai yang berada 8 km barat Kota Manado itu penuh sesak. Para peserta bergerombol sesuai dengan kelompoknya di pinggir jalan untuk menunggu detik-detik penyelaman. Di sisi lain, berdiri panggung di pantai. Panggung tersebut, selain digunakan untuk tempat duduk tamu undangan, dimanfaatkan sebagai jalan para tamu VIP dan panitia menuju rubber boat (perahu karet). Peserta lain turun melalui tangga yang disiapkan. Di tengah kesibukan tersebut, seorang gadis kecil berjalan sambil memegang masker. Masih mengenakan pakaian selam warna biru, badannya basah. Rambutnya yang panjang diikat dengan karet gelang. Gadis itu lantas menggelendot di pundak ayahnya. Mereka menuju ke arah dermaga tempat para tamu VIP berkumpul dan mempersiapkan penyelaman. Di sana juga terlihat Wakil KSAL Laksamana Madya TNI Moekhlas Sidik dan Danlantamal VIII Manado Willem Rapangilei. Gadis kecil bernama Keysha Tesalonika Latjando, 9, tersebut terus berada di dekat sang ayah, Godlife Latjando. Saat Jawa Pos menanyakan namanya, dia menjawab agak malu-malu. “Keysha,” katanya. Dialah penyelam termuda yang ikut serta dalam pemecahan rekor Sail Bunaken 2009. “Ya, dia ikut saya menyelam,” sahut Godlife ketika Jawa Pos menanyakan keikusertaan Keysha dalam pemecahan rekor selam masal kemarin. Keysha mengangguk sambil merangkul ayahnya. Keikutsertaan Keysha menarik perhatian banyak orang. Tidak terkecuali Danlantamal VIII Willem Rapangilei. Keysha adalah peserta paling kecil. Willem pun sempat berbicara kepada Moekhlas Sidik yang berada di sebelahnya. “Pak, ini penyelam termuda kita,” katanya. Moekhlas lantas mengajak Keysha berfoto bersama. Momen tersebut diabadikan sejumlah media. Karena tubuh Keysha kecil, Moekhlas pun mengangkat gadis cilik itu ke pundaknya. “Kamu kecil sekali. Kalau difoto bersebelahan begini, tidak kelihatan. Saya gendong saja, ya,” kata Moekhlas. Sesaat kemudian, Keysha bersama dengan kru yang lain menuju titik penyelaman. Setelah sekitar setengah jam, Keysha muncul di permukaan laut. Dia lantas kembali ke tempatnya semula. Begitu penyelaman selesai, gadis cilik kelahiran Surabaya, 7 Oktober 1999, itu segera menghampiri ibunya, Heidy Palit. “Senang sekali bisa ikut menyelam beramai-ramai. Berarti ini rekornya sudah didapat ya, Pa,” kata Keysha sambil menoleh ke arah ayahnya. Godlife menuturkan, selama berada di kedalaman Keysha sangat tenang. “Saya pastikan dia juga terus bersama saya. Waktu geladi bersih kemarin (Sabtu lalu, 15/8, Red) dia memang sempat mengaku kedinginan dan ingin segera ke permukaan. Tetapi, kali ini (saat pemecahan rekor) tidak,” tutur anggota Marinir berpangkat pelda (pembantu letnan dua) itu. Untuk ukuran anak kecil, Keysha termasuk sangat pemberani. Sebab, penyelaman tersebut dilakukan di kedalaman 13?15 meter. Berada di bawah permukaan laut biasanya menakutkan bagi anak kecil seusia dia. Menurut Godlife, Echa “panggilan akrab Keysha” diajari menyelam sejak umur 3 tahun. Bahkan, Echa sudah mendapatkan sertifikat selam One Star dari CMAS (Confederation Mondiale des Activites Subaquatiques atau World Underwater Federation), organisasi olahraga selam dunia yang berpusat di Roma, Italia. Di Indonesia, CMAS adalah mitra POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) dalam melakukan sertifikasi selam. “Aku tertarik dan pengin nyelam karena lihat Papa,” cerita Keysha. Saat ini ayah Keysha bertugas di Yonmarhanlan VIII Bitung. Selain itu, Godlife berprofesi sebagai instruktur selam POSSI serta memiliki klub selam Porodisas Scuba Bitung. Tidak heran jika kemudian Keysha tertarik untuk mengikuti aktivitas sang ayah. Anak kedua di antara tiga bersaudara itu pun akhirnya ikut kelas menyelam junior. “Selain itu, aku pengin lihat ikan,” ujar Keysha. Itu rupanya yang menarik minatnya. Dengan menyelam, Keysha bisa melihat langsung biota laut. Murid kelas 5 SD Advent Pioner, Bitung, itu juga mengatakan sudah pandai berenang sejak umur 2 tahun. “Aku sudah bisa gaya bebas, gaya dada, dan gaya punggung. Yang belum bisa, gaya kupu-kupu. Susah soalnya,” ceritanya. Keysha bertutur, untuk mengikuti penyelaman itu, dirinya mempersiapkan jauh-jauh hari. Dia berlatih sejak sebulan lalu sebelum acara Sail Bunaken 2009. Penyelaman di Pantai Malalayang, Manado, itu adalah penyelamannya kali ketiga. Kali pertama dia menyelam di Selat Lembeh, Bitung Selatan. Setelah bisa menyelam, dia malah ketagihan. Hal itu dibenarkan sang ayah. Hanya, dia harus lebih telaten membimbing dan menghadapi Echa. “Namanya anak kecil. Terkadang suka moody (angin-anginan atau bergantung suasana hati),” ucap Godlife. Dia mencontohkan, ketika mulai turun ke bawah permukaan air dalam geladi bersih Sabtu lalu, baru di kedalaman sekitar 5 meter, Keysha sudah meminta naik lagi ke permukaan. Godlife lalu menenangkan dia. Mereka berhenti sebentar di kedalaman itu. Dengan hand signal, Godlife berbicara kepada putrinya. “Tenang, Echa pasti bisa. Nanti sama Papa terus digandeng. Itu lihat, yang lain juga menyelam. Echa pasti bisa,” kata Godlife saat itu. Dia mengakui, Keysha masih suka down (patah semangat) ketika melihat kedalaman. “Jadi, saya harus benar-benar tenang dan sabar meyakinkan dia,” tuturnya. Untuk berkomunikasi di dalam air, ketua POSSI Bitung itu selalu membawa white board kecil kala menyelam dengan anaknya. Selama di dalam air, Keysha acap mengungkapkan rasa keingintahuannya. “Dia cukup reaktif kalau melihat hal yang baru. Misalnya, saat melihat ikan yang aneh, dia langsung menulis itu ikan apa” Waktu kedinginan saat menyelam, dia juga langsung menulis, Papa aku sudah kedinginan,” papar Godlife. Khawatir anaknya merajuk, padahal geladi bersih belum selesai, dia lalu membalas. Sabar ya, sedikit lagi, tinggal 10 menit. Selain Echa, penyelam cilik yang ikut serta adalah Jason Axel, 10. Murid kelas 5 SD Sophos School, Jakarta, itu bergabung dalam Octopus Diving Club Pelabuhan Ratu untuk kelas Junior Open Water. Ketertarikan Jason kepada olahraga selam ternyata bermula karena binatang. Dia suka binatang. Menurut ibunya, Dwiana Inawati, Jason suka membeli buku dan DVD tentang binatang. “Dia paling suka dengan binatang laut, terutama ikan,” katanya. Kebetulan orang tua Jason, Paulus Purinito dan Dwiana Inawati, memiliki hobi diving. Sejak kecil Jason sudah diajari berenang. Setelah bisa, dia mulai diajari menyelam. Jam selam Jason memang belum banyak. Sebelum berangkat ke Manado, dia baru dua kali menyelam. Begitu sampai di Manado pada 13 Agustus lalu, mereka menyelam di perairan Pantai Malalayang. Dwiana menuturkan, Jason masih harus dibantu saat memakai alat selam. “Biasalah, masih anak-anak. Kalau menyelam, pasti nanya, Ma mana maskerku. Tabungku udah siap belum,” katanya. “Buat saya, itu tidak merepotkan. Justru saya tahu kalau dia sedang memastikan apakah alat yang akan digunakan sudah siap semua,” lanjutnya. Apa yang diungkapkan ibu Jason benar. Kemarin, sebelum upacara pemecahan rekor terjadi, Jason menanyakan hal yang sama kepada sang ibu. Berada di kelompok J, Jason sudah siap dengan pakaian selam. Tapi, matanya masih terlihat mengantuk. Maklum, peserta diharuskan berkumpul sebelum jam enam pagi. Sejenak kemudian dia bertanya kepada ibunya. “Kapan turunnya, Ma. Mau lihat ikan,” ucapnya tak sabar. Dia juga hafal nama-nama binatang laut. “Waktu menyelam geladi bersih, aku lihat bulu babi,” ceritanya. Meski punya kemampuan menyelam, Jason belum memiliki sertifikat selam. Sertifikat Junior Open Water dari PADI (lembaga kursus menyelam) baru akan diberikan kepada Jason pada 17 Agustus (hari ini), bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Instruktur selam Jason, Thea G.S., menyebutkan bahwa anak didiknya itu sebenarnya sudah melewati semua tahap sertifikasi dan sudah dinyatakan lulus. “Tapi, waktu itu Jason belum 10 tahun. Ulang tahunnya baru 17 Agustus. Jadi, penyelaman saat upacara pengibaran bendera di bawah laut merupakan kado ultahnya. Sekalian dapat sertifikat,” paparnya. Kendati belum memiliki sertifikat, niat dan nyali Jason untuk ikut menyelam tak surut. “Aku pengin banget memecahkan rekor dunia. Pas ditawarin ke sini, aku langsung mau,” ucapnya. Karena itu, meski belum punya sertifikat seperti ketentuan, panitia tetap mengizinkan Jason ikut serta. Syaratnya, dia membawa surat keterangan orang tua. Dwiana mengatakan, surat keterangan itu sudah dibuat dan diserahkan kepada panitia. “Kami juga tidak berani membiarkan dia menyelam tanpa pengawasan kami secara langsung,” katanya. Saat pembawa acara mengumumkan kelompoknya harus menuju ke pantai, Jason yang datang bersama orang tua dan kakaknya langsung beranjak. Untuk membawa peralatan, dia dibantu ayahnya. Begitu acara penyelaman selesai, Jason berujar. “Wah, seru sekali menyelamnya. Banyak orang di dalam tadi. Aku gandengan sama Mama-Papa terus,” tuturnya. (*/dwi) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN